Depan > Index Artikel > Life Skills : Teman Setia Generasi Berencana
Life Skills : Teman Setia Generasi Berencana
Senin, 7 Januari 2013  |  BkkbN

​Oleh : Yuniarini, S.Psi
 
Remaja dan permasalahannya menjadi  isu yang sangat penting saat ini. Kenakalan dan tindakan asusila begitu sering ditemukan. Kasus-kasus seperti tawuran pelajar sampai dengan married by accident akibat kehamilan yang tidak diinginkan seolah menjadi isu yang tiada akhir. Hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010 menunjukkan jumlah remaja mencapai angka 64 juta  atau 27,6% dari jumlah penduduk Indonesia. Besarnya angka tersebut tentunya memerlukan  perhatian dan pembinaan yang tepat untuk membentuk remaja berkarakter dan bersikap tegar. Yang dimaksud dengan remaja tegar disini adalah remaja sebagai generasi yang berencana yaitu remaja yang menunda usia pernikahan; berperilaku sehat; terhindar dari risiko Seksualitas, HIV dan AIDS, Napza; bercita-cita mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera; serta menjadi contoh, model,  idola,  dan sumber informasi bagi teman sebayanya.
 
Pemerintah melalui program Generasi Berencana yang di laksanakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan pendekatan dan pembinaan kepada masyarakat melalui 2 wadah yaitu Bina Keluarga Remaja (BKR) dan Pusat Informasi dan Konseling bagi Remaja/Mahasiswa (PIK R/M). BKR menilik keluarga remaja seperti ayah dan ibu sebagai sasaran pemaparan informasi, sementara PIK R/M menjadikan remaja sendiri sebagai penerima informasi dan konseling melalui pelayanan yang diberikan oleh Pendidik Sebaya dan Konselor Sebaya yang telah terlatih. Kedua jenis kelompok tersebut menerima informasi-informasi penting seperti Kesehatan Reproduksi, Napza, Infeksi Menular Seksual, Komunikasi Efektif dll yang diharapkan menjadi modal ilmu dalam mengikuti tumbuh kembang remaja secara positif dan terarah.
 
Salah satu materi penting lain sebagai substansi dasar Program Generasi Berencana (GenRe) adalah Life Skills atau Keterampilan Hidup. Life Skills adalah pendidikan non formal yang memberikan keterampilan non formal, sosial, intelektual/akademis dan vokasional untuk bekerja secara mandiri. Life skills diperlukan remaja sebagai keterampilan untuk dapat berperilaku positif dan beradaptasi dengan lingkungan, yang memungkinkan remaja mampu menghadapi berbagai tuntutan, godaan dan tantangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif.
 
Life Skills yang dikembangkan dalam program GenRe lebih ditekankan pada keterampilan fisik, keterampilan mental, keterampilan emosional, keterampilan menghadapi kesulitan, keterampilan spiritual, dan keterampilan vokasional (kejuruan).
 
Ketrampilan fisik dalam Life Skills adalah kemampuan seseorang (remaja) untuk mencapai kekuatan, fleksibilitas dan ketahanan fisik. Tidak jarang  remaja menghabiskan waktu semalam suntuk untuk bergadang bersama teman-temannya. Betah di warnet berjam-jam di depan layar komputer untuk bermain game online. Pola makan yang tidak teratur dan tidak tepat pilih juga menjadikan remaja bermasalah dengan kondisi fisiknya. Disinilah keterampilan ini dibutuhkan untuk menyeimbangkan pola makan, olahraga dan kebutuhan untuk beristirahat demi terciptanya remaja sehat. Remaja diharap mampu memahami dan berkomunikasi dengan tubuh sendiri, mengatur pola makan dan memilih makanan yang sehat, melakukan olah raga seperti bersepeda dan basket serta beristirahat (tidur) sebagai salah satu terapi kesehatan.
 
Keterampilan mental, emosional dan kemampuan menghadapi kesulitan dalam Life Skills berhubungan erat dengan beberapa hal antara lain positive thinking, kesabaran terhadap diri sendiri, kemampuan menghindari diri dari pengaruh negatif, pergaulan, pengembangan prioritas dan tanggung jawab serta termasuk kemampuan untuk mengembangkan rasa humor. Selain itu, remaja diharap mampu menjadi pribadi yang terus termotivasi untuk berprestasi serta tidak menganggap keterbatasan fisik, mental dan sosial nya sebagai hambatan. Secara emosional, remaja dituntut untuk memiliki kemampuan mengendalikan impuls dan mengatasi emosi negatif. Mengembangkan keterampilan mengelola stress membuat remaja mampu memelihara  dirinya sendiri dan orang lain serta mempengaruhi lingkungan sosialnya ketika berhadapan dengan berbagai situasi buruk dan tekanan dari lingkungan, media massa/elektronik serta teman sebaya. Remaja  yang sudah terbiasa mengelola stress, akan selalu siap (berperilaku) menghadapi pengaruh-pengaruh lingkungannya serta mampu membuat keputusan-keputusan yang tidak gegabah. Pola komunikasi interpersonal yang baik dengan orang tua dan orang-orang yang berada dalam lingkungannya juga akan tercipta dengan sendirinya. Godaan-godaan seperti penyalahgunaan napza dan perilaku free sex akan dapat di tolak secara asertif, karena remaja juga telah dibekali dengan keterampilan berkomunikasi dengan baik. Lihatlah betapa penggunaan social media yang tidak tepat telah membawa remaja hidup dalam dunia maya sesungguhnya. Berkenalan dan bertemu dengan orang yang salah serta terlatih mengekspresikan emosi dengan cara negatif kepada orang yang tidak disenanginya melalui status-status digital.
 
Berikutnya yang paling penting adalah mengenai keterampilan spiritual pada remaja, yang umumnya terasah dengan baik karena telah menjadi suatu kebiasaan sejak kecil dalam keluarga. Sebuah pertanyaan kerap muncul dalam benak kita : “benarkah kehidupan agama remaja kita telah tergantikan oleh budaya-budaya baru seperti gadget, K-Pop, café dan fashion?”. Keterampilan spiritual menjadi teman penting dalam kehidupan sehari-hari remaja. Sebagai contoh, melaksanakan puasa dan menerapkan shalat 5 waktu dimana saja remaja berada akan membawa remaja terhindar dari keji dan mungkar, menghilangkan penyakit hati, mampu menahan hawa nafsu serta tetap berada dalam kestabilan emosi.
 
Life skills terakhir yang penting di miliki remaja adalah keterampilan vokasional atau kejuruan. Keahlian tertentu akan membawa remaja larut dalam aktifitas positif. Selain karena keahlian tersebut memang disenanginya, keahlian tertentu dapat menjadi mesin uang yang memungkinkan remaja menunjang pendapatan keluarga atau minimal untuk pemenuhan kebutuhannya sendiri. Hobi-hobi baru dalam bentuk handycraft dapat diciptakan seperti kreasi bros dan pemasangan payet/bordir di jilbab, pembuatan banner dan theme untuk website tertentu atau bahkan berdagang secara online. Bentuk-bentuk kegiatan positif inilah yang diharapkan ada pada remaja-remaja kita. Karena kreasi akan membuka jalan pada prestasi.
 
Penguasaan life skills oleh para generasi Indonesia akan memungkinkan mereka memiliki usaha untuk mencapai tujuan nya dan bertanggung jawab atas perbuatan serta mampu memecahkan masalah sebagai solusi yang baik dan tepat. Dibalik itu semua, yang terpenting adalah remaja mampu mengenali dan menghindari hal-hal yang dapat membawa kearah kerusakan moral seperti free sex, Infeksi Menular Seksual serta penyalahgunaan Napza.
 
Mari remaja Indonesia.. jadilah Generasi yang Berencana..!!!
 
 
Penulis adalah Widyaiswara Pertama di BKKBN Prov Aceh
Email: yuniarini@bkkbn.go.id
Facebook : Yunia Makmoer
Twitter : @yuniamakmoer